Chicken Latte Viral di Jakarta, Topping Uniknya Bikin Penasaran
IndoKuliner – Chicken Latte Jakarta sedang mencuri perhatian pencinta kuliner karena tampil sangat berbeda dari latte biasa. Tren yang sebelumnya populer di Guangzhou, China, kini hadir di kawasan Pluit, Jakarta Utara. Menu tersebut disajikan di Tetiam Nostalgia Social House. Daya tarik utamanya bukan daging ayam, melainkan puding karamel yang dicetak menyerupai seekor ayam kecil. Puding kemudian diletakkan di atas gelas sebagai topping. Konsep tersebut membuat banyak orang awalnya bertanya-tanya apakah minuman ini benar-benar menggunakan ayam. Faktanya, rasa dasarnya tetap berada di wilayah minuman manis seperti kopi, matcha, cokelat, dan red velvet. Dalam hampir satu bulan sejak tempat tersebut beroperasi, Chicken Latte dilaporkan telah terjual hampir 1.000 sajian.
Baca Juga: Ayam Woku Kembali Viral, Rempah Harumnya Menggoda Selera
Tren Chicken Latte Berawal dari Guangzhou, China
Kehadiran Chicken Latte di Jakarta bukan muncul tanpa inspirasi. Menurut pemilik Tetiam, Andre Hansen, ide tersebut muncul setelah timnya melihat tren serupa di Guangzhou melalui media sosial. Mereka menilai konsep itu belum umum ditemukan di Indonesia. Akhirnya, Tetiam mencoba menghadirkannya di Jakarta. Bahkan, cetakan khusus untuk membuat puding berbentuk ayam didatangkan dari China. Langkah tersebut membantu mempertahankan karakter visual yang membuat versi Guangzhou lebih dulu viral. Namun, Tetiam tidak berhenti pada satu minuman. Mereka mengembangkan topping yang sama untuk beberapa varian latte. Hasilnya, konsumen mendapat lebih banyak pilihan tanpa kehilangan elemen unik dari tren aslinya.
Topping Ayam Ternyata Terbuat dari Puding Karamel
Bagian paling menarik dari Chicken Latte Jakarta tentu berada pada topping-nya. Meski bentuknya menyerupai ayam kecil, tidak ada potongan daging ayam di dalam minuman tersebut. Topping dibuat dari puding karamel yang dicetak menggunakan cetakan khusus. Bentuknya cukup detail sehingga menghasilkan ilusi visual yang mengejutkan ketika pertama kali dilihat. Puding kemudian ditempatkan di atas gelas berisi minuman dingin. Dengan demikian, nama “Chicken Latte” merujuk pada bentuk topping, bukan bahan hewani berupa daging ayam. Fakta ini penting karena foto minuman tersebut memang mudah menimbulkan salah persepsi ketika dilihat tanpa konteks.
Kopi Chicken Latte Memadukan Espresso dengan Puding Manis
Varian kopi menjadi salah satu versi yang paling banyak menarik perhatian. Racikannya terdiri dari susu, krimer, es, espresso, dan puding karamel berbentuk ayam. Menariknya, espresso disajikan terpisah sebelum dituangkan ke gelas. Saat cairan kopi mengenai puding, tampilannya menjadi semakin dramatis. Dari sisi rasa, detikFood menggambarkan versi kopi sebagai minuman yang tidak terlalu manis. Karakter pahit espresso masih terasa, sementara puding memberikan sentuhan karamel. Ada pula kesan rasa seperti kacang dan cokelat pada kopinya. Karena itu, topping unik tersebut tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga menambahkan elemen manis pada racikan.
Matcha Chicken Latte Menawarkan Karakter Lebih Creamy
Bagi mereka yang tidak terlalu tertarik pada kopi, tersedia versi matcha. Racikan ini terasa lebih manis dibandingkan varian kopi yang dicicipi detikFood. Namun, karakter pahit khas matcha masih dapat dirasakan. Puding karamel kemudian memberikan lapisan rasa manis yang melengkapi minuman. Perpaduan tersebut menunjukkan mengapa topping yang sama dapat bekerja dengan basis minuman berbeda. Selain matcha, Tetiam juga menawarkan pilihan red velvet dan cokelat. Jadi, konsep Chicken Latte tidak dibatasi pada espresso. Fleksibilitas tersebut sekaligus memperluas daya tariknya kepada konsumen yang tidak minum kopi.
Empat Varian Membuat Tren Ini Semakin Menarik
Saat diliput pada September 2026, terdapat empat pilihan utama, yakni kopi, matcha, red velvet, dan cokelat. Harga minuman berada di kisaran Rp40.000-an per gelas. Setiap varian memakai konsep serupa dengan topping puding berbentuk ayam. Namun, warna minuman menghasilkan tampilan yang berbeda ketika dituangkan di sekitar puding. Matcha memberikan kontras hijau, sedangkan red velvet menghasilkan visual kemerahan yang lebih mencolok. Sementara itu, kopi menawarkan kombinasi warna yang lebih klasik. Variasi tersebut menjadi strategi menarik karena konsumen tidak hanya memilih berdasarkan rasa. Mereka juga dapat memilih berdasarkan pengalaman visual yang ingin dicoba.
Hampir Seribu Sajian Terjual dalam Waktu Singkat
Popularitas Chicken Latte tidak hanya terlihat dari unggahan media sosial. Menurut laporan detikFood pada September 2026, hampir 1.000 sajian telah terjual ketika Tetiam baru beroperasi sekitar satu bulan. Produksi topping ternyata membutuhkan usaha tersendiri. Puding berbentuk ayam memerlukan sekitar dua sampai tiga jam dalam proses pembuatannya, menurut keterangan pengelola. Angka penjualan tersebut memberi gambaran tentang besarnya rasa penasaran konsumen terhadap menu ini. Namun, popularitas awal belum tentu berarti sebuah menu akan bertahan sebagai tren jangka panjang. Dalam industri kuliner, pengalaman rasa tetap penting setelah faktor visual berhasil menarik pelanggan pertama kali.
Media Sosial Membantu Menu Unik Cepat Mendapat Perhatian
Fenomena Chicken Latte Jakarta juga memperlihatkan kuatnya pengaruh media sosial terhadap tren kuliner. Bentuk ayam di atas latte menciptakan elemen kejutan yang mudah dikenali dalam foto maupun video pendek. Bahkan sebelum mengetahui rasanya, orang sudah memiliki alasan untuk berhenti melihat konten tersebut. Konsep seperti ini cocok dengan budaya kuliner visual yang berkembang di platform digital. Namun, viralitas bukan hanya soal tampilan aneh. Produk tetap perlu menawarkan pengalaman yang menyenangkan ketika dicicipi. Dalam kasus Chicken Latte, puding karamel memberikan fungsi ganda. Selain menciptakan bentuk ikonik, topping tersebut juga menjadi bagian dari rasa minuman.
Nuansa Kopitiam Nostalgia Memberikan Pengalaman Berbeda
Tetiam sendiri tidak hanya mengandalkan satu menu viral. Tempat ini mengusung konsep kopitiam dengan suasana nostalgia dan dominasi interior kayu. Kapasitasnya dilaporkan berada di kisaran 100 hingga 200 pengunjung. Selain Chicken Latte, tersedia berbagai menu yang mengambil inspirasi dari comfort food. Ada pula minuman seperti Hong Kong Milk Tea dan Korea Peach Tea Espresso. Untuk makanan pendamping, pengunjung dapat menemukan kaya toast serta siomay bergaya Hong Kong. Dengan demikian, Chicken Latte berfungsi sebagai pintu masuk yang menarik perhatian. Namun, konsep tempat secara keseluruhan tetap memberikan konteks yang lebih luas bagi pengalaman kuliner pengunjung.
Chicken Latte Menunjukkan Kreativitas Baru dalam Penyajian Minuman
Minuman ini menarik karena inovasinya sebenarnya sederhana. Basis kopi, susu, matcha, cokelat, atau red velvet bukan sesuatu yang asing. Puding karamel juga bukan dessert baru. Namun, perubahan bentuk dan cara penyajian mampu menciptakan pengalaman berbeda. Di sinilah kreativitas kuliner bekerja. Bahan yang familiar dapat terasa baru ketika diberi konteks visual yang tidak terduga. Selain itu, konsumen sekarang sering mencari pengalaman yang dapat dinikmati sekaligus dibagikan melalui media sosial. Chicken Latte memenuhi kedua kebutuhan tersebut. Karena itu, kekuatannya bukan terletak pada bahan eksotis, melainkan pada bagaimana bahan sederhana dikemas menjadi cerita yang mudah diingat.
Topping Unik Menjadi Alasan Utama Orang Penasaran
Nama Chicken Latte mungkin terdengar seperti perpaduan gurih yang ekstrem. Namun, kenyataannya jauh lebih ramah bagi pencinta dessert. Tidak ada daging ayam yang dicampurkan ke dalam kopi. Sebaliknya, puding karamel berbentuk ayam menjadi pusat perhatian. Konsep ini memainkan ekspektasi sebelum konsumen mencicipinya. Pertama, orang dibuat bingung oleh namanya. Kemudian, bentuk topping membuat rasa penasaran semakin besar. Setelah itu, barulah rasa kopi, matcha, atau minuman lainnya mengambil peran. Pola pengalaman tersebut menjelaskan mengapa menu yang tampak sederhana dapat menghasilkan percakapan luas di internet.
Chicken Latte Jakarta Membawa Tren Guangzhou ke Pluit
Fenomena Chicken Latte Jakarta menunjukkan betapa cepat tren kuliner dapat berpindah dari satu kota ke kota lain. Inspirasi dari Guangzhou kini memperoleh interpretasi lokal di Pluit. Dalam waktu sekitar sebulan, hampir 1.000 sajian dilaporkan terjual. Namun, angka tersebut bukan satu-satunya hal yang menarik. Topping puding berbentuk ayam membuktikan bahwa presentasi dapat mengubah minuman familiar menjadi pengalaman baru. Kopi, matcha, red velvet, dan cokelat mendapatkan identitas berbeda hanya melalui satu elemen visual. Pada akhirnya, Chicken Latte menjadi contoh bagaimana kreativitas, media sosial, dan rasa penasaran konsumen dapat bertemu dalam satu gelas.
