Donat Kembali Meledak di TikTok, Kreasi Baru Mulai Bermunculan
IndoKuliner – Donat viral di TikTok kembali mencuri perhatian pencinta kuliner pada 2026. Makanan klasik ini hadir dengan wajah yang jauh lebih modern. Jika dahulu donat identik dengan gula halus atau meses, kini tampilannya semakin beragam. Krim tebal, pistachio, matcha, karamel asin, dan berbagai isian menjadi daya tarik baru. Selain itu, kreator kuliner sering memperlihatkan tekstur donat dari jarak dekat. Saat donat dibelah, krim yang melimpah langsung menjadi pusat perhatian. Cara penyajian seperti ini sangat cocok dengan karakter konten video pendek. Bahkan, data tren TikTok pada pertengahan September 2026 menunjukkan momentum topik doughnut meningkat tajam. Fenomena tersebut memperlihatkan satu hal menarik. Donat tidak membutuhkan perubahan total untuk kembali populer. Sebaliknya, makanan sederhana ini hanya membutuhkan kreativitas baru agar terasa relevan dengan selera konsumen saat ini.
Baca Juga: Crème Brûlée Butter Sand Viral, Dessert Korea Hadir dengan Kejutan Renyah
Mengapa Donat Bisa Kembali Meledak di Media Sosial?
Popularitas donat sebenarnya tidak sulit dipahami. Bentuknya sederhana, rasanya familiar, dan variasinya hampir tidak memiliki batas. Namun, TikTok memberikan faktor tambahan berupa kekuatan visual. Donat dengan lapisan mengilap, krim tebal, atau isian yang meleleh terlihat menarik dalam video singkat. Terlebih lagi, pengguna media sosial kini semakin memperhatikan tekstur makanan. Mereka ingin melihat bagian yang renyah, lembut, kenyal, atau creamy sebelum memutuskan mencobanya. Karena itu, produsen tidak lagi hanya menjual rasa. Mereka juga menjual pengalaman visual. Menurut saya, faktor inilah yang membuat donat mampu bersaing dengan dessert baru. Konsumen sudah mengenal produknya, tetapi inovasi memberikan alasan untuk mencoba kembali. Dengan demikian, kombinasi antara nostalgia dan kejutan menjadi kekuatan utama donat di tengah cepatnya perubahan tren kuliner digital.
Isian Melimpah Menjadi Magnet Utama Konten Viral
Salah satu perubahan paling terlihat hadir pada bagian dalam donat. Kini, banyak kreasi menggunakan isian dalam jumlah cukup banyak. Custard, cokelat, pistachio cream, tiramisu, hingga matcha menjadi pilihan populer. Tren ini sejalan dengan perkembangan konten bakery di media sosial. Produk dengan bagian dalam yang mudah terlihat saat dipotong cenderung menghasilkan visual yang lebih dramatis. Oleh sebab itu, proses membelah donat sering menjadi bagian penting dalam video. Penonton tidak hanya melihat bentuk luarnya. Mereka juga menunggu momen ketika isiannya terlihat. Namun, jumlah krim bukan satu-satunya penentu kualitas. Donat tetap membutuhkan adonan yang ringan dan rasa yang seimbang. Jika isiannya terlalu manis, sensasi makan justru cepat terasa berat. Karena itu, kreasi terbaik biasanya mampu menjaga keseimbangan antara tekstur adonan, isian, serta topping.
Pistachio, Matcha, dan Warna Berani Ikut Mengubah Tampilan
Selain tekstur, warna semakin menentukan daya tarik dessert di media sosial. Pistachio memberikan warna hijau alami yang kuat. Sementara itu, matcha menghadirkan karakter warna sekaligus rasa yang khas. Ube, buah beri, dan cokelat pekat juga memberi identitas visual yang mudah dikenali. Tren bakery sepanjang 2026 menunjukkan bahwa warna berani membantu sebuah produk menonjol saat muncul di layar ponsel. Karena alasan tersebut, topping tidak lagi berfungsi sebagai pelengkap semata. Topping telah menjadi bagian dari identitas produk. Meski demikian, tampilan sebaiknya tetap diikuti kualitas rasa. Konsumen mungkin datang pertama kali karena melihat video yang menarik. Namun, mereka hanya akan kembali jika produknya memang enak. Di sinilah tantangan bagi pembuat donat kekinian. Mereka perlu menghasilkan produk yang fotogenik tanpa mengorbankan rasa, aroma, dan tekstur.
Donat Hybrid Membuka Ruang Kreasi yang Lebih Luas
Gelombang berikutnya datang dari konsep hybrid atau penggabungan beberapa jenis dessert. Tren bakery global pada 2026 masih menunjukkan minat terhadap produk yang menggabungkan format familiar dengan elemen baru. Donat sangat cocok mengikuti pola tersebut. Adonan dapat dibuat lebih chewy, sementara bagian tengah bisa mengambil inspirasi dari cheesecake, tiramisu, atau dessert berbasis custard. Bahkan, pasar Asia terus menghadirkan eksperimen yang lebih berani. Jepang, misalnya, menjadi salah satu pasar yang aktif mengembangkan variasi donat dengan bahan dan konsep tidak biasa. Pendekatan seperti ini membuat donat terasa seperti kanvas kuliner. Bentuk dasarnya tetap mudah dikenali, tetapi pengalaman makannya berubah. Meski begitu, inovasi sebaiknya tidak dilakukan hanya demi terlihat aneh. Kreasi yang kuat biasanya memiliki hubungan rasa yang masuk akal. Dengan begitu, unsur viral menjadi pintu masuk, sedangkan kualitas menjadi alasan konsumen membeli lagi.
Tekstur Kini Sama Pentingnya dengan Rasa
Perubahan menarik lainnya terjadi pada cara konsumen menilai makanan. Rasa tetap penting, tetapi tekstur semakin mendapat perhatian besar. Konsumen mencari kontras antara bagian luar dan bagian dalam. Mereka menyukai permukaan sedikit renyah dengan bagian tengah yang lembut. Sebagian lainnya mencari sensasi kenyal dari donat bergaya mochi. Tren industri makanan pada 2026 juga memperlihatkan meningkatnya perhatian terhadap pengalaman tekstur. Kondisi ini sangat menguntungkan donat karena satu produk dapat menawarkan beberapa sensasi sekaligus. Selain itu, tekstur mudah dikomunikasikan melalui video. Gerakan menarik adonan, menekan permukaan, atau membelah donat mampu memberikan gambaran sebelum seseorang mencicipinya. Menurut saya, faktor tersebut menjelaskan mengapa konten donat terasa cocok dengan TikTok. Produk ini memiliki unsur visual sekaligus sensorik yang mudah diterjemahkan ke dalam video pendek.
Kreasi Asia Memberikan Pengaruh Besar pada Donat Modern
Asia menjadi salah satu sumber inovasi penting dalam perkembangan donat modern. Jepang telah menghadirkan mochi doughnut serta berbagai eksperimen berbasis bahan lokal. Bahkan, muncul kreasi yang menggunakan tepung udon dan konsep gurih yang tidak biasa. Di sisi lain, matcha dan ube terus digunakan untuk menciptakan rasa serta warna yang khas. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa donat tidak harus selalu mengikuti formula Barat. Sebaliknya, bahan lokal dapat menciptakan identitas baru. Peluang serupa sebenarnya terbuka luas di Indonesia. Pandan, klepon, gula aren, kelapa, kopi susu, atau bahkan cita rasa jajanan tradisional dapat diterjemahkan menjadi donat modern. Namun, pembuatnya perlu mempertahankan karakter bahan tersebut. Dengan cara itu, kreasi tidak terasa seperti sekadar mengikuti tren. Produk justru dapat membawa cerita lokal ke format yang lebih mudah diterima generasi muda.
TikTok Mengubah Cara Toko Donat Menciptakan Produk
Dahulu, inovasi menu lebih banyak mengikuti riset pasar dan tren penjualan. Kini, media sosial ikut masuk ke proses pengembangan produk. Sebuah menu harus lezat, tetapi tampilannya juga perlu mudah dikomunikasikan melalui layar. Karena itu, toko donat mulai memperhatikan warna, bentuk, ukuran, tekstur, dan momen ketika produk dibelah. Fenomena ini bukan berarti semua makanan harus dibuat demi kamera. Namun, perilaku konsumen memang berubah. Banyak orang menemukan tempat makan melalui video pendek sebelum berkunjung langsung. TikTok juga dapat mempercepat penyebaran sebuah tren melalui rekomendasi yang sangat personal. Akibatnya, satu kreasi menarik dapat memperoleh perhatian dalam waktu singkat. Meski demikian, viralitas memiliki usia terbatas. Toko yang hanya meniru tampilan tanpa membangun kualitas akan lebih mudah kehilangan pelanggan ketika tren berikutnya muncul.
Donat Lokal Punya Peluang Besar Ikut Mencuri Perhatian
Indonesia memiliki modal kuat untuk mengembangkan tren donat berikutnya. Kita memiliki banyak bahan dengan karakter rasa dan warna yang khas. Gula aren dapat menghasilkan rasa karamel yang dalam. Pandan memberi aroma familiar. Sementara itu, kelapa menawarkan tekstur yang cocok dipadukan dengan adonan lembut. Bahkan, inspirasi dari klepon atau kopi susu dapat menghasilkan produk yang terasa dekat dengan konsumen lokal. Donat kentang sendiri sebelumnya telah beberapa kali kembali menjadi perbincangan di media sosial Indonesia. Karena itu, produsen lokal tidak selalu perlu meniru tren luar negeri secara utuh. Mereka justru dapat mengambil teknik modern lalu menggabungkannya dengan rasa Nusantara. Menurut saya, pendekatan tersebut lebih menarik dalam jangka panjang. Selain memberikan identitas, cerita di balik bahan lokal juga dapat memperkuat pengalaman konsumen. Produk akhirnya tidak hanya menarik untuk difoto, tetapi juga mempunyai karakter.
Tren Donat 2026 Lebih dari Sekadar Topping Berlebihan
Kembalinya donat ke percakapan TikTok memperlihatkan bagaimana makanan klasik dapat terus berevolusi. Berdasarkan perkembangan bakery tahun ini, inovasi bergerak menuju kombinasi tekstur, isian terlihat jelas, warna kuat, rasa nostalgia, serta konsep hybrid. Namun, tren bukan jaminan keberhasilan. Produk tetap membutuhkan kualitas adonan, keseimbangan rasa, dan konsistensi. Di sisi lain, konsumen juga semakin cepat mengenali kreasi yang hanya mengejar sensasi. Karena itu, inovasi terbaik justru tidak perlu terlalu rumit. Donat yang lembut dengan satu isian khas bisa lebih berkesan daripada produk dengan terlalu banyak topping. TikTok mungkin menjadi pemicu ledakan popularitasnya. Akan tetapi, rasa tetap menentukan apakah konsumen akan datang kembali. Jika produsen mampu menjaga dua unsur tersebut, donat berpeluang bertahan lebih lama daripada sekadar satu siklus viral.
